Sepak Bola Jago Kapuk di Lingkungan Ngadipiro

Play off Jago Kapuk di Lingkungan Ngadipiro

Saya suka nonton pertandingan sepak bola. Sportivitas yang ditampilkan sejak peluit awal babak pertama ditiup sampai ambisi masing-masing kesebelasan untuk memenangkan pertandingan, bagaikan air yang mengalir. Skill individu maupun taktik dalam sebuah tim adalah satu kecerdasan yang tersirat. Euforia suporter, baik di dalam maupun di luar lapangan, meneriakkan dukungan dengan begitu hebat. Kesemuaannya berpadu menjadi tontonan yang sungguh nikmat.

Awal pertama menjadi penikmat pertandingan olahraga yang populer di seantero jagad itu dulu, saat piala dunia 2002 berlangsung di Jepang-Korea Selatan. Masih ingat saya soundtraknya yang ye ye ye ya gitu. Waktu itu yang jadi juaranya Brazil, dengan Ronaldo gundulnya yang menyabet top skor laga.

Sejak itu saya mulai gila bola. Setiap ada pertandingan yang berlangsung, saya sering mengalahkan kegiatan lain-lain demi menontonnya. Biar pas hari malam mingguannya anak muda, saat itu saya lebih tertarik menyaksikan sepakan rendah nan tajamnya Rivaldo dari luar kotak penalti yang mampu ditepis Oliver Kahn sehingga bola bergulir bebas didepan gawang lalu disambar dengan cepat oleh Ronaldo dan akhirnya, Goooooool! Brazil akhirnya mampu menjebol gawang Jerman di menit ke-67 berkat kesigapan Sang Fenomena.

Pertandingan berlanjut memasuki menit ke-79 Kleberson melakukan serangan dari sisi kanan melesakkan umpan ke depan gawang disana ada Rivaldo yang melangkahi bola mengecoh bek Jerman bola pun dikuasai oleh Ronaldo yang segera melakukan tembakan ke tiang jauh dan apa yang terjadi! Goooool! 2-0 untuk Brazil. Aduh.. nyesek. Lha wong saya dulu menjagokan Tim Panser.

Kompetisi bermula..

Efek piala dunia 2002 ini sungguh hebat. Selain menjadikan saya satu dari para bola mania, pengaruhnya juga terjadi di lingkungan desa. Tidak lama setelah perhelatan akbar jagad itu, di lingkungan kami turut mengadakan kompetisi sepak bola. Hanya saja, lingkupnya adalah antar RT dalam satu lingkungan. Laga ini nantinya bergulir pada akhir bulan Juli sampai pertengahan Agustus, sebagai salah satu kegiatan menyongsong hari ulang tahun kemerdekaan RI.

Kompetisi ini bermula dengan nama Pertandingan Sepak Bola Jago Kapuk. Sebutan dua kata terakhir kalau dicari di Kamus Besar Bahasa Indonesia mungkin tidak ada. Tapi kalau nyarinya di buku Kawruh Basa Jawa ada. Artinya ayam jantan yang sudah tua (laki-laki tua). Peserta yang diperbolehkan mengikuti kompetisi ini adalah warga Lingkungan Ngadipiro yang sudah beristri atau pernah beristri dan berusia di kisaran empat puluhan atau diatasnya.

Peraturan kompetisi ini pun jelas. Ada sembilan RT di Lingkungan Ngadipiro, dan semuanya diwajibkan ikut berpartisipasi. Sistem yang digunakan sama dengan fase knockout di piala dunia 2002, atau biasa disebut sistem gugur. Pertandingan dilakukan pada sore hari menjelang Maghrib. Biasanya dalam satu pertandingan hanya dibatasi 20 menit per babak. Bagi RT yang tidak hadir dalam pertandingan sebagaimana jadwal yang sudah ditetapkan, maka dianggap kalah atau gugur.

Perihal atribut, tiap RT wajib menggunakan jersey kebanggan masing-masing. Meskipun saat awal dulu yang dipakai untuk jersey adalah kaos kelompok tani yang jelas-jelas tidak ada nomor punggungnya, hal itu sah-sah saja. Demi kenyamanan dan keamanan bersama, peserta tidak diperkenankan memakai sepatu bergigi.

Tempat diadakannya turnamen menjelang pitulasan ini adalah lapangan di Lingkungan Tengklik, lingkungan yang masih dalam satu pemerintahan sama dengan Ngadipiro yakni Kelurahan Tanjungsari. Lapangan disana cukup memadai. Ukurannya sekitar 60 x 90 meter, dengan rumput yang lumayan adanya. Fasilitas disekitar lapangan pun cukup lengkap. Ada puskesmas yang bisa dijadikan rujukan peserta bila sewaktu-waktu terjadi cedera. Ada warung-warung jajan yang siap melayani kebutuhan cemilan penonton.

Kalau saya pilih nontonnya dari sisi barat lapangan. Disana teduh dan nggak sulap, nggak bentrok melihat matahari. Sisi barat juga menjadi tempat bercokolnya komentator dengan pengeras suaranya. Mendengar serunya komentar bola yang melegenda menjadi semakin jelas, seperti “apa yang terjadi”, “utak-atik sebentar”, “umpan menipu kawan”, “si kulit bundar melebar”. Tapi waktu itu belum ada yang namanya ahayjebret, dan golololololololol.

Anak-anak dari luar lapangan menyoraki bapaknya. Ibu-ibu sampai berdiri berteriak-teriak. Kadang histeris karena melihat sang bapak terpeleset bola. Para penonton tertawa terbahak sampai guling-guling perut, melihat Mbah Katimin menyundul bola memakai punggungnya. Gelak tawa berlanjut karena penonton melihat Pakdhe Sumidi menendang bola, yang melayang justru sepatunya terlepas.

Suporter kedua kesebelasan gembira. Anak-anak dan ibu-ibu gembira, setia menunggui bapaknya mengolah si kulit bundar. Bapak-bapak di dalam lapangan senang melihat keluarganya gembira. Semua menebarkan kegembiraan. Biarpun begitu, menurut salah satu dari Walisanga, jroning suka kudu tansah eling lan waspadha. Dalam kegembiraan harus selalu ingat dan waspada. Ingat tadi sebelum berlaga sudah sholat Ashar atau belum, waspada jangan sampai pertandingan belum selesai ketika adzan Maghrib berkumandang. Itu baru berkah.

Begitulah hiburan tahunan di desa saya bermulai. Sepak bola jago kapuk menyuguhkan laga yang menggembirakan semua kalangan tanpa menggagas peliknya managemen klub, struktur organisasi induk, dan kerusuhan antar suporter. Disini juga bisa nonton secara live tanpa gangguan acak karena alasan komersialisasi hiburan olahraga. Sangat berkesan, hiburan yang memasyarakat memang tiada duanya.

Author: Adi

Blogger asli Wonogiri. Pendidik muda dengan bidang keilmuan sejarah. Mempunyai minat di bidang seni musik, bela diri, IT dan kerohanian.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz