Muslim Yang Bersaudara

Persaudaraan muslim

Bulan Ramadhan menjadi saat dimana umat muslim disibukkan dengan kegiatan ibadah. Tidak terkecuali majlis ilmu di kampung kami. Setiap bulan puasa tiba, sering di tempat itu dihadiri oleh rombongan penuntut ilmu agama dari daerah lain. Kedatangan mereka selain mencari ilmu dan mendakwahkan Islam, juga mempererat tali kebersamaan sebagai sesama muslim. Dengan tali silaturahmi ini para rombongan yang datang dapat mengenal kampung kami lebih dekat, baik itu dari sisi masyarakat ataupun kondisi alamnya. Mereka dengan senang hati juga mengisahkan pengalaman di daerah asalnya masing-masing. Tentang kondisi masyarakatnya, alamnya, tidak jarang pula pengalaman pribadinya. Jadi, semacam hubungan timbal balik. Mereka mendapatkan khazanah ilmu dan pengetahuan dari kampung kami, sedangkan kami juga mendapatkan hal yang serupa dari daerah asal mereka.

Malam itu kami didatangi oleh rombongan, lima orang jumlahnya. Di depan majlis ilmu, mereka mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing. Yang saya tahu, salah satu dari mereka berasal dari suatu daerah di bagian utara Pulau Jawa. Menurut kabar yang beredar, di daerah itu pernah terjadi kesalahpahaman antar warga yang menyebabkan konflik. Nah, saya akan sangat senang apabila nanti beliau menuturkan secara detail mengenai peristiwa yang terjadi di daerahnya. Bagaimanapun, memastikan kepada siapa yang mengalaminya langsung adalah langkah yang paling tepat untuk mengetahui benar atau tidaknya suatu kabar (baca:tabayyun).

Saling berbagi pengalaman pun dimulai. Saat giliran beliau berbicara, saya pun semakin antusias memperhatikannya. Inilah saat yang ditunggu-tunggu untuk memastikan kronologi kejadian yang sebenarnnya. Beliau mengawali kisahnya dengan perkenalan diri dan keluarganya. Hingga tiba waktunya beliau menceritakan pengalaman kejadian itu:

“Bapak dan Ibu yang saya hormati, serta teman-teman semuanya yang berbahagia. Hidup itu tidak selalu berawal dengan jalanan lurus dan terus lurus hingga di kemudian hari. Buktinya, masa muda saya itu dikenal sebagai pemuda yang nakal, tidak mengindahkan norma-norma kehidupan masyarakat maupun beragama. Sebenarnya di dalam hati saya itu rasanya gundah, tidak pernah tenang. Akan tetapi begitu kuatnya hawa nafsu di dalam diri saya itu sampai segala kegundahan tadi teralihkan oleh kebanggaan sesat yang sesaat. Di suatu saat saya itu mencapai titik puncak keresahan dan merasa sangat bersalah dengan perbuatan menyimpang saya tadi. Tapi alhamdulillah Gusti Allah masih memberi saya kesempatan bertobat. Saya diperkenalkan majlis ilmu ini di kota S.

Saat awal pertama ngaji dulu, saya sudah punya calon pendamping hidup. Saya kenal dia itu beberapa tahun yang lalu, saat saya masih senang bermain-main dengan dosa. Sampai tiba saatnya saya mengenal pengajian, saya meyakinkan hati untuk menikah dengannya. Tapi ada satu kesalahan yang menjadi bumerang bagi saya. Saya waktu itu tidak peduli dengan latar belakang keluarganya. Kesalahan mulai terasa ketika sudah menjalani hidup berumah tangga, dimana saya tinggal satu rumah bersama bapak dan ibu mertua. Apa yang diyakini keluarga istri saya itu ternyata tidak sesuai dengan pemahaman agama saya yang saya dapati dari pengajian.

Sebagai seorang muslim, pedoman saya hanya Al Qur’an dan sunah Rasulullah. Akan tetapi, banyak larangan-larangan dalam ajaran Islam justru dilakukan bapak dan ibu mertua. Memang lingkungan mertua saya begitu akrab dengan budaya larangan itu. Sejak saat itu saya mulai mengalami dilema. Kalau menuruti kebiasaan mertua dan masyarakat sekitar, berarti saya mengingkari kebenaran ajaran agama saya. Kalau tetap teguh menjalankan ajaran agama, maka saya akan bertentangan dengan budaya setempat.

Sudah berulangkali mertua saya, bahkan warga sekitar, mengajak saya melakukan apa-apa yang mereka yakini. Namun berulangkali pula saya menolak ajakan tersebut. Tentu semua itu saya lakukan dengan adab yang santun. Tapi semua seolah sia-sia. Mereka belum bisa menerima pemahaman saya yang berbeda dengan pemahaman mereka. Semakin lama saya mempertahankan prinsip, warga kampung semakin mengecam. Mereka menghujat saya yang di dalam pandangan mereka, tidak mau mengikuti tradisi mereka. Puncaknya, pernah sewaktu saya sendirian berjalan kaki tiba-tiba masyarakat setempat menghadang. Mereka beramai-ramai mengadili dan memukuli saya.

Dalam kondisi yang sudah babak belur, saya tidak berhenti mencari cara untuk lolos dari kepungan warga. Sekali ada kesempatan saya nekat lari ke rumah, khawatir nanti terjadi apa-apa dengan istri saya. Saya lari sekencang mungkin, tidak tahu kalau warga turut mengikuti saya dari belakang. Sesampai di rumah, saya langsung masuk lantas menutup pintu. Istri saya yang waktu itu sedang menyapu lantai langsung terduduk dan menangis sejadi-jadinya melihat kondisi saya. Tidak mampu dia berdiri untuk menghampiri saya. Saya dekati dia dan memeluknya. Saya meyakinkan dia kalau ini mungkin cobaan dari Gusti Allah, kami harus tegar menghadapinya.

Di luar terdengar riuh suara warga meneriaki nama saya dan mencaci maki. Tidak lama berselang diikuti pecahnya genting-genting atap rumah kami karena lemparan batu. Kami lari ke belakang rumah menerobos kebun dan semak belukar. Dalam benak saya, hanya satu untuk mencari perlindungan, rumah paklik (bapak kecil) saya. Beliau masih bisa mengerti walaupun kami berbeda pemahaman mengenai masalah keyakinan.

Di rumah paklik, kami langsung dituntun ke dalam mobil untuk diantar ke kantor aparat keamanan wilayah yang menaungi kampung mertua saya. Namun nasib ternyata tidak sedang berpihak kepada saya. Aparat keamanan berbalik menahan saya karena dianggap sebagai pemicu permasalahan. Saya diinterogasi dan diberikan pilihan kesepakatan dengan warga. Kami dibawa kembali ke kampung untuk dipertemukan dengan warga. Kesepakatan pun berlangsung. Melalui perantara aparat keamanan kami diharuskan sanggup untuk mengikuti “peraturan hidup” di kampung mertua saya. Dengan sangat terpaksa kami menaatinya, meskipun di dalam hati saya menangis.

Hari demi hari berlalu dengan penuh kekhawatiran, mengingat peristiwa yang pernah terjadi dulu mungkin akan terulang kembali. Waktu itu dengan sangat terpaksa kami mengikuti adab kebiasaan kampung. Pada suatu ketika saya terpaksa berbohong kepada mertua. Saya berpamitan untuk melakukan perbaikan motor ke kota. Sebenarnya saya ingin meminta pertimbangan saudara-saudara sepengajian. Namun bagaimana lagi, tidak ada cara lain selain berbohong untuk bisa menemui mereka di kota S yang jaraknya dua ratusan kilometer dari kampung mertua saya. Sementara kami di rumah selalu dalam pengawasan mertua dan warga.

Di kota S, saya menemui beberapa teman sepengajian. Saya jelaskan perihal kondisi saya di kampung. Mereka dapat memahami dan menyarankan saya untuk mengaji lebih jauh tentang Islam dan menawarkan pekerjaan disitu. Sepulang dari kota S, saya menghadap bapak mertua saya untuk meminta izin. Saya bilang kepada mertua bahwa saya diterima bekerja di kota S. Beliaupun mengizinkan saya. Mulai saat itu saya pulang pergi dari kampung ke kota S. Saya semakin sering mengikuti kajian umum dan kajian rutin khusus disana. Perasaan ini sedikit terobati dengan kembalinya saya mengikuti pengajian di kota S.

Seiring berjalannya waktu, warga kampung mulai tahu keberadaan saya di kota S tidak hanya bekerja, namun juga mengikuti pengajian. Kami sekelarga pun diusir dari kampung halaman, termasuk mertua saya. Dengan berat hati kami meninggalkan kampung untuk menuju kota S. Di perjalanan, ibu mertua menatap sedih putrinya yang kini tengah hamil delapan bulan. Beliaupun meneteskan air mata. Saya pun tidak kuasa menahan tangis dan terisak. Sayalah akar penyebab mereka menjadi terkatung-katung seperti ini. Bapak mertua menyentuh pundak saya. Beliau berkata, bahwa ini mungkin rencana Gusti Allah untuk memuliakan hambanya. Beliau juga menyadari kalau selama ini seluruh amalan yang dilakukannya tidak sesuai dengan syariat Islam.

Di kota S, kami ditampung oleh pihak pengajian. Dengan itu pula kami sekeluarga akhirnya dapat mengikuti kajian dengan aman. Kami bisa berkumpul satu keluarga, senantiasa memanjatkan doa bersama agar diberikan ketabahan. Maha Suci Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia mendengarkan doa-doa kami. Dia memberi karunia kepada kami sekeluarga yakni lahirnya sang buah hati yang begitu lucu dan menggemaskan.

Bertahun-tahun lamanya kami tinggal di kota S. Tetangga kami dari kampung pun sebagian sudah mulai mengikuti pengajian ke kota. Melihat kami di tempat pengajian, mereka menegur sapa lantas menghampiri kami. Pak B yang dulunya turut memukuli saya, kini memeluk erat saya. Beliau meneteskan air mata. Berulang kali mengucapkan maaf kepada saya atas perbuatannya dulu. Saya bilang kepada beliau bahwa yang belalu biarlah berlalu. Saya dan beliau kini telah kembali dalam kebersamaan. Mendengar itu beliau semakin terisak memeluk saya. Begitulah indahnya persaudaraan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, al muslimu akhul muslim laa yadhlimuhu wala yuslimuhu. Wa man kaa na fii haajati akhiihi kaa nallahu fii haajatihi, Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim, ia tidak boleh menganiayanya dan tidak boleh membiarkannya tanpa pertolongan. Dan barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhan dirinya (HR Bukhori).

Pak B menyarankan kepada kami untuk kembali ke kampung halaman. Suasana di kampung kini sudah jauh berbeda dengan yang dahulu. Beberapa warga telah terketuk pintu hidayahnya sehingga mau menerima ajaran Islam yang benar, yang berdasarkan Al Qur’an dan hadits, meskipun masih ada beberapa warga yang tetap kukuh dengan keyakinannya masing-masing. Saya diantar beberapa tetangga di kampung menuju aparat keamanan wilayah. Aparat menerima pengaduan kami. Kami kembali dihadapkan kepada seluruh warga kampung. Kesepakatan akhirnya tercapai dimana warga kampung dan pihak aparat mau menerima proses pengembalian dengan beberapa ketentuan, yakni dalam pengamalan agama adalah menurut keyakinannya masing-masing, tidak boleh saling mengganggu antar pihak, serta siapapun yang mengadakan provokasi yang mengatasnamakan pihak, maka pihak tersebut yang nantinya ditindaklanjuti.

Kami sekeluarga akhirnya bisa kembali ke kampung halaman. Biarlah disana masih ada perbedaan keyakinan, perbedaan pendapat dalam memahami agama, toh empat imam besar (Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali) pun tidak pernah berselisih meskipun mereka jelas-jelas berbeda satu sama lainnya. Salah satu dari mereka tidak merasa pemahamannya paling benar daripada yang lainnya. Mereka bisa saling menghormati, karena sama-sama menjadikan Al Qur’an dan hadits sebagai dasar pedoman beragama.”

Tidak terasa dengan mendengar penuturan beliau mata saya menjadi sembab. Begitu banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah beliau. Hingga pada akhirnya waktu silaturahmi telah usai dan mereka pamit untuk meninggalkan kampung kami. Usai bersalaman, mereka melangkahkan kaki keluar dari ruangan majlis ilmu. Saya masih tetap memandang sosok beliau yang kian menjauh dari tempat saya kini berada. Betapa tabah beliau menjalani ujianNya. Semoga di kemudian hari Gusti Allah tidak menimpakan ujian berat kepada saya sebagaimana ujian berat yang Ia berikan kepada hamba-hambaNya sebelum saya.

______________
L’Sanga, 13 Juli 2013

Author: Adi

Blogger asal Wonogiri. Pendidik muda dengan bidang keilmuan sejarah. Mempunyai minat di bidang seni musik, bela diri dan kerohanian.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz