Ramadhan 1434 H

Maka Nikmat Tuhan Kamu Manakah Yang Kamu Dustakan

Saya itu sampai hafal, kalau bulan Ramadhan pasti cuacanya panas. Bahkan saya tahu itu sejak dulu waktu mulai kenal yang namanya puasa mbedhug. Pas terik-teriknya matahari, itulah cobaan paling berat. Kepala rasanya merekah kayak tela di sawah, itu lho, retakan tanah di sawah yang kering kerontang. Apalagi ini sehabis dari pesantren kilat. Pulangnya naik kaki. Jauh pula.

Kalau sudah begini, paling segar ya beli es kucir, sejenis es lilin. Lha ya boleh, wong puasa gitu kalau jam dua belas sudah bisa berbuka, meski lamanya berbuka cuma dibatasi sepuluh menit saja. Nggak tahu itu aturan dari mana. Kata ibu’, “Yang penting kamu mau belajar berpuasa, Le”, gitu. Memang waktu itu saya bisa ikut sahur, ngisi buku kegiatan Ramadhan, minta tanda tangan imam masjid sama penceramahnya, asyik pokoknya. Tapi itu dulu, waktu seragam sekolahnya masih putih merah.

Kalau zamannya semakin kesini ya beda. Masak puasanya masih mbedhug terus. Gengsi, lah. Malu sama Gusti Allah. Saya pengin naik level kok. Eaaaa. Alhamdulillah, kalau bulan Ramadhan saya sanggup menjalankan puasa ndina, puasa seharian penuh. Berbuka setelah adzan maghrib berkumandang. Sebenarnya kalau disuruh puasa sampai malam pun saya sanggup kok. Eits, mentang-mentang sudah kuat, sekarang mau kemaki dihadapan Gusti Allah. Nggak boleh! Disitu sudah ada “aturan main”nya.

Suasananya kini masih sama kayak dulu, sih. Masih banyak yang menjalankan puasa. Di masjid-masjid masih melaksanakan shalat tarawih selepas Isya’. Ya iya, wong bulan Ramadhan. Adik-adik kecil masih melestarikan puasa mbedhug juga. Cuaca masih sama panasnya. Saking gerahnya menahan panas dan dahaga, kalau berbuka yang diserang duluan pasti es. Entah itu es kolak, es dawet, es teh atau es sirup, yang namanya pakai es pasti seger. Tapi bukan es-a-em-es-u lho ya, wong saya ini nggak ngudud. Hanya bedanya, untuk Ramadhan akhir-akhir ini, kalau ke masjid saya sudah tidak menenteng buku kegiatan Ramadhan lagi. Kan kasihan merepotkan imam sama penceramahnya dimintai tanda tangan terus.

Khususnya tahun ini, 1434 H, suasana sudah berganti lain dari yang lain sebelumnya. Kondisi udaranya sejuk. Terkadang malah diiringi turun hujan. Menurut omnya yang ngisi acara seputar cuacalogi di tivi-tivi, kondisi kayak gini namanya anomali. Katanya, ini kemungkinan akan berlangsung lama, bahkan sampai selesai puasa nanti.

Sekarang, biar matahari sudah diatas kepala, rasanya nggak panas menyengat amat. Menjalankan puasa tidak seberat tahun-tahun kemarin. Kan asyik.

Begitu indah rencana Gusti AllahDari yang bertahun-tahun terbiasa tabah ngejalani puasa di tengah panasnya cuaca, kini dihadiahi kemudahan untuk menjalankan perintah-Nya. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

O ya, coba omnya di tivi-tivi tadi ngisi program Discovery Channel, dan memberitakan kalau ada orang Indonesia menemukan alat canggih yang bisa mentransportasikan waktu, ketika waktu sahurnya di WIB sedangkan waktu berbukanya di WIT. Sepertinya itu akan sama asyiknya.

__________
Sala, minggu kedua Juli 2013

Author: Adi

Pendidik sejarah, musisi akustik, selengkapnya lihat profil.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz