Persiapkan Diri Sebaik-Baiknya

Aku pernah memiliki angan tentang keabadian hidup di dunia. Apakah hal itu benar-benar ada layaknya kisah Anoman yang hidup kekal dari masa ke masa? Atau keinginan kaum munafik untuk diberikan umur seribu tahun lagi lamanya, lantas Ia kabulkan permohonan itu dan merakapun hidup selama itu pula?

Dia Yang Maha Tinggi berfirman, bahwa tidak satupun manusia dijadikan hidup abadi. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dia menguji dengan kebaikan dan keburukan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada-Nya semua kembali (QS.21:34-35).

Hidup bukanlah suatu keabadian, dan mati adalah kepastian. Perihal panjang pendeknya usia, aku tiada mengetahui. Dan semua orang aku rasa juga begitu. Hanya Dialah yang mengetahui, dan menentukan garis takdir kehidupan.

Perihal takdir, terkadang ada yang menyalahartikan. Seseorang beranggapan, ketika dia sudah tua renta, raga tiada lagi berdaya, dan penyakit pun tiada kunjung mereda, meski dibawa berobat pun tiada guna.

Ada anggapan pula jikalau takdirnya mati, ya mati juga. Bukankah kemungkinan untuk hidup itu lebih besar ketika penyakit itu diobati, daripada dibiarkan begitu saja?

Dan peristiwa yang aku saksikan tadi, di lereng menuju puncak Merapi tepat diatas Pasar Bubrah, menjadi gambaran mengenai takdir dan usaha.

Ceritanya, di pagi hari tatkala sang surya panasnya belum begitu membakar, puluhan pendaki merayap menyusuri lereng pasir dan bebatuan. Beruntung bagi mereka-mereka yang sudah sampai terlebih dahulu di tempat tertinggi. Dengan sesuka hati mereka bebas mengekspresikan diri.

Namun sayang, ekspresi itu tidak diimbangi dengan kehati-hatian untuk menjaga keselamatan sesama pendaki. Mereka yang diatas, terus berusaha meraih puncak-puncak bebatuan yang boleh dibilang ekstrim.

Entah apa yang membuatnya tiada menyadari sehingga beberapa batu yang diinjaknya melesat jatuh. Batu sekepal tangan hingga sebesar bola takraw meluncur ke arah pendaki yang masih berkutat di lereng menuju puncak!

Salah satu lontaran batu itu mengarah ke seorang lelaki yang berjalan naik sendirian di sepertiga lereng. Serentak melihat hal itu beberapa pendaki lainnya berteriak, “Mas, batu! awas batu!”.

Lelaki itu, entah daya apa yang melintas pada dirinya, dengan spontan ia membalikkan badan membelakangi lereng. Batu yang mengarah kepadanya menghantam bagian atas tas carrier-nya, sehingga menimbulkan suara “bugg” yang cukup keras. Gerakan batu pun berhenti di belakang lelaki yang nyaris na’as itu. Ia pun selamat dari hantaman reruntuhan batu itu.

Pertolongan dari-Nya datang dengan tidak terduga. Betapa beruntungnya pendaki itu masih diberikan keselamatan dan kesempatan untuk melanjutkan perjalanannya. Bayangkan, apa jadinya apabila si pendaki itu tidak mengindahkan seruan-seruan?

Dan apa jadinya jika ia tidak sesegera membalikkan badan? Bukan suatu kepasrahan untuk menerima takdir kematian yang ia tunjukkan, melainkan usaha untuk menghindari keburukan.

Ini bukan persoalan melawan takdir. Akan tetapi sejauh mana diri berusaha untuk menghindari hal yang membahayakan. Meskipun kematian adalah sesuatu yang pasti, bukan berarti kita bisa memastikan hal itu akan datang disaat cobaan Ia berikan.

Kemampuan kita terbatas, hanya Dia yang mengetahui perihal ghaib. Sebaik-baik diri adalah mempersiapkan segala kemungkinan yang bakal terjadi, dan berusaha untuk menghindari segala sesuatu yang membawa kemudharatan. So, persiapkan diri sebaik-baiknya.

_____
Gunung Merapi, 10 Oktober 2014

Author: Adi

Blogger asli Wonogiri. Pendidik muda dengan bidang keilmuan sejarah. Mempunyai minat di bidang seni musik, bela diri, IT dan kerohanian. Mendaki gunung? Eksplorasi pantai? Ayoo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *