Perantauan Jawa di Tanah Ngada

Berbicara soal tanah rantau, orang Jawa tidak terlepas dari kodratnya sebagai pengembara. Kisah pengembaraan orang Jawa begitu abadi dalam lembaran sejarah bangsa. Mulai dari adanya ekspansi Wangsa Syailendra menuju tanah Palembang dan terbentuklah kerajaan besar bercorak Buddha yang mahsyur akan kekuasaan maritimnya, Kerajaan Sriwijaya. Lalu di era Kerajaan Majapahit, dengan sumpah Amukti Palapanya sang patih Gajah Mada, wilayah ekspansi orang Jawa kian meluas di seluruh Nusantara. Kisah pengembaraan itu berlanjut disaat kerajaan-kerajaan Islam dari Jawa melalui ekspansi dakwahnya mengarungi pulau-pulau di Nusantara. Bahkan, komunitas Bayan di Lombok Utara juga mengisahkan bahwa asal mula leluhurnya adalah orang Jawa yang menunaikan misinya berdakwah dari Kerajaan Mataram.

Di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, juga memiliki sisi kesejarahan yang ada sangkut pautnya dengan kisah pengembaraan orang Jawa. Nama ibukota Kabupaten Ngada, Bajawa, menjadi bukti awal diaspora itu. Bhadjawa adalah nama salah satu nua (kampung) terbesar dari tujuh kampung besar di tepi barat kota Bajawa sekarang. Apabila diterjemahkan dalam bahasa lokal, “bha” berarti piring, dan “djawa” berarti Tanah Jawa atau perdamaian. Dua suku kata tersebut digabungkan menjadi “bhadjawa” yang artinya piring dari Jawa. Cerita sejarah lokal menyebutkan bahwa pada zaman Kerajaan Ngada dahulu sang raja yang berkuasa mengadakan kesepakatan damai dengan satu kerajaan besar dari Jawa. Kesepakatan ini mengawali hubungan baik diantara keduanya dan menciptakan kerjasama saling menguntungkan. Atas prakarsa ini, sang penguasa dari Ngada menerima hadiah kerajinan keramik dari Jawa berupa piring-piring. Kisah ini melegenda dari masa ke masa hingga terbentuklah nama kota Bajawa yang merupakan pengejaan tutur dari nama aslinya, Bhadjawa.

Kini, banyak orang Jawa yang dapat dijumpai di kota Bajawa. Mereka menggiati profesi masing-masing, baik di bidang perdaganan, pertambangan, dan jasa. Kebanyakan orang Jawa yang dapat dijumpai langsung disana adalah mereka yang bekerja di bidang perdagangan dan jasa. Tidak heran apabila kita melihat di sepanjang ruas jalan kota banyak ditemui kios, toko kelontong, warung makan dan gerobak kuliner yang dikelola orang Jawa. Begitu pula di bidang jasa seperti koperasi kredit, perbankan, otomotif, dan tekstil, karyawan atau bahkan pemilik usahanya adalah orang Jawa.

Warga di Ruas Jalan Kota Bajawa

Selama bertugas sebagai guru SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), di kota Bajawa saya selalu senang ketika bertemu orang Jawa. Pernah suatu ketika saya makan di warung Padang. Di depan warung ada seorang ibu yang memakai pakaian khas Jawa, baju kebaya dengan jarik pada setelan bawah, tengah menurunkan jamu dagangan dari punggungnya. Mulanya, saya bertanya-tanya dalam hati apakah ibu penjual jamu itu berasal dari Wonogiri, sama seperti saya. Wonogiri selain disebut sebagai kota gaplek juga dikenal sebagai penghasil jamu tradisional. Untuk memastikannya, beliau saya ajak bicara. Dari awal tutur kata, beliau terdengar medhok dan saya sangat mengenali logat itu. Dan benar saja, di tengah percakapan beliau mengaku berasal dari Kecamatan Selogiri, masih satu kabupaten dengan tempat tinggal saya di Kecamatan Jatisrono. Beliau juga mengisahkan bahwa awal mulai berjualan jamu di Bajawa ini sudah berpuluh tahun lamanya.

Di kesempatan lain saya menemui bapak yang berprofesi sebagai satpam salah satu bank nasional di Bajawa. Di sela kesibukannya, beliau selalu rajin pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang di hari Jum’at. Di pelataran masjid setelah jum’atan usai, saya dan teman-teman SM3T sering bercanda dengan beliau. Dari kisah yang pernah dituturkan, bapak yang ternyata asli orang Magetan ini baru beberapa tahun disini kerena dipindahtugaskan dari daerah asalnya. Karena keluarganya tidak ikut serta tinggal di Bajawa, beliau selalu menantikan saat-saat liburan untuk bisa pulang dan melepas rindu dengan istri, anak-anak, dan orang tua di kampung halaman.

Begitu pula mereka yang membuka usaha di sepanjang jalan terminal atas kota seperti bapak penjual gorengan yang ternyata asli orang Lamongan, pemilik warung makan Barokah yang asli Solo, dan pengusaha fotocopy serta peralatan kantor yang asli orang Jepara. Di Bajawa, mereka menyewa tempat kos sebagai tempat tinggal sementara. Ketika ada kesempatan libur, mereka kembali ke kampung halaman dan seterusnya kembali lagi mengais rejeki di Bajawa.

Lain halnya dengan orang Jawa yang berprofesi sebagai pedagang di luar pusat kota Bajawa. Mereka biasa berkelana dari satu kampung ke kampung lain, dari satu pasar ke pasar lain. Meskipun tempat kosnya di Bajawa dan kesanalah mereka kembali dari berdagang di daerah-daerah, tidak jarang pula mereka menginap di rumah penduduk lokal karena pengaruh kemalaman atau sebab lain yang mengharuskan mereka untuk singgah.

Para pedagang ini pergi ke daerah-daerah bertepatan dengan hari pasar masing-masing. Banyaknya pasar di daerah-daerah, yang tentu saja jarak antar pasar cukup jauh, mengharuskan mereka untuk membawa kendaraan yang cukup untuk mengangkut barang dagangannya. Di Kecamatan Riung Barat sendiri ada dua pasar yang letaknya berjauhan dan memiliki hari pasar yang berbeda. Pertama adalah pasar yang terletak di pusat kecamatan, Maronggela. Yang kedua adalah Pasar Lindi yang terletak di sebelah barat daya Kecamatan Riung Barat. Letak Pasar Lindi dari pusat kecamatan terpisahkan oleh pegunungan. Untuk menjangkau daerah ini, kendaraan dari arah pusat kecamatan harus menempuh jalan memutar yang melintasi empat kecamatan sekaligus, Kecamatan Riung, Soa, Wolomeze, dan Bajawa Utara. Bisa dibayangkan betapa jauhnya akses daerah ini dari pusat kecamatannya sendiri.

Pasar Lindi merupakan satu-satunya pasar di Desa Benteng Tawa Raya, desa dimana saya bertugas. Puncak keramaian pasar ini terjadi pada hari pasar yakni hari Selasa. Pada hari itu pula pedagang Jawa beramai-ramai ke Pasar Lindi. Mereka membawa barang dagangan menggunakan mobil barang pada pagi hari. Menjelang jam satu siang mereka sudah harus berkemas-kemas. Pada jam-jam itu biasanya aktivitas pasar sudah berakhir. Mereka para pedagang Jawa bergegas kembali ke tempat tinggal di Bajawa. Ada juga yang langsung pergi ke daerah selanjutnya yang hari pasarnya Rabu.

Di pedesaan pada hari-hari biasa, geliat para pedagang ini masih bisa dijumpai. Mereka melintasi perkampungan menggunakan mobil pick up dengan barang dagangan seperti perabot rumah tangga dan pakaian. Dengan angkutan lebih kecil seperti sepeda motor, ada diantara dari mereka yang menawarkan jasa tambal panci atau membeli besi bekas. Mereka yang berkelana menggunakan sepeda motor ini kerap kali pulang membawa hasil bumi yang mereka angkut dari petani desa. Komoditas yang bisa mereka bawa adalah jambu mete, lada/merica, dan vanili.

Banyak alasan yang menjadikan populasi orang Jawa, terutama kaum pedagang, begitu cepat berkembang di Kabupaten Ngada. Sikap andhap asor dan ngajeni terhadap penduduk lokal membuat mereka mudah diterima disana. Ini didukung dengan sikap masyarakat Ngada yang sangat menjunjung tinggi nilai tolerani. Di samping itu, orang Jawa juga menginspirasi penduduk lokal dengan rintisan usaha-usaha baru yang sekiranya di Kabupaten Ngada belum ada. Hubungan antar orang Jawa disana juga begitu erat. Ini terbukti dari kebiasaan mereka sehari-hari. Meskipun di tanah perantauan, baik di desa maupun kota mereka senantiasa menggunaka bahasa ibu sebagai bahasa percakapan sehari-hari dengan sesama orang Jawa. Dengannya, orang Jawa menjadi rukun dan saling membantu mengingat mereka sama-sama di tanah orang. Penggunaan bahasa ibu turut memudahkan pendatang baru seperti saya untuk cepat mengenal dan akrab terhadap mereka. Primordialisme menjadi satu kebanggaan tersendiri. Sanadyan ing pulo sebrang, wong Jawa ora ilang Jawane. Meskipun di tanah perantauan, orang Jawa tidak akan luntur sifat Jawanya. Kebudayaan adiluhung ini menjadi identitas asli orang Jawa di tanah perantauan yang tidak mudah tergerus oleh tempat dan waktu.

Author: Adi

Blogger asli Wonogiri. Pendidik muda dengan bidang keilmuan sejarah. Mempunyai minat di bidang seni musik, bela diri, IT dan kerohanian.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz