Sepak Bola Jago Kapuk di Lingkungan Ngadipiro

Play off Jago Kapuk di Lingkungan Ngadipiro

Saya suka nonton pertandingan sepak bola. Sportivitas yang ditampilkan sejak peluit awal babak pertama ditiup sampai ambisi masing-masing kesebelasan untuk memenangkan pertandingan, bagaikan air yang mengalir. Skill individu maupun taktik dalam sebuah tim adalah satu kecerdasan yang tersirat. Euforia suporter, baik di dalam maupun di luar lapangan, meneriakkan dukungan dengan begitu hebat. Kesemuaannya berpadu menjadi tontonan yang sungguh nikmat. (more…)

Author: Adi

Blogger asli Wonogiri. Pendidik muda dengan bidang keilmuan sejarah. Mempunyai minat di bidang seni musik, bela diri, IT dan kerohanian.

Emug, Hidangan Serbuk Jagung

Emug Kasar

“Pa Guru, siang ini kita coba makan ini e”, ucap Om Pan sambil mengulurkan dua piring makanan. Satu piring berisi sayur pucuk labu seperti biasa. Piring satunya lagi berisi sesuatu yang bikin saya penasaran. Bentuknya tai graji, seperti bubuk kayu bekas gergajian bapak di rumah di Jawa. “Ini apa Om?”, tanya saya pada bapak kos saya itu. “Ai, Pa Guru coba saja dulu, setelah itu saya kasi tau”, jawab beliau sambil tersenyum. Beliau sendiri sudah menghadap dua piring yang isinya sama dengan yang diberikan kepada saya tadi. “Tapi tidak apa-apa kan Om? maksudnya nggak bikin efek samping gitu?”, sambung saya yang ragu-ragu. Takut nanti terjadi apa-apa setelah makan, kekenyangan misalnya. “Ao, tidak le Pa Guru. Pa Guru makan sudah, ini Om mulai makan”, jawab beliau sambil menyendok bentukan serbuk gergaji tadi, lalu melahapnya. Seolah meyakinkan saya, kalau makanan itu benar-benar aman dikonsumsi. (more…)

Author: Adi

Blogger asli Wonogiri. Pendidik muda dengan bidang keilmuan sejarah. Mempunyai minat di bidang seni musik, bela diri, IT dan kerohanian.

Ramadhan 1434 H

Maka Nikmat Tuhan Kamu Manakah Yang Kamu Dustakan

Saya itu sampai hafal, kalau bulan Ramadhan pasti cuacanya panas. Bahkan saya tahu itu sejak dulu waktu mulai kenal yang namanya puasa mbedhug. Pas terik-teriknya matahari, itulah cobaan paling berat. Kepala rasanya merekah kayak tela di sawah, itu lho, retakan tanah di sawah yang kering kerontang. Apalagi ini sehabis dari pesantren kilat. Pulangnya naik kaki. Jauh pula.

Kalau sudah begini, paling segar ya beli es kucir, sejenis es lilin. Lha ya boleh, wong puasa gitu kalau jam dua belas sudah bisa berbuka, meski lamanya berbuka cuma dibatasi sepuluh menit saja. (more…)

Author: Adi

Blogger asli Wonogiri. Pendidik muda dengan bidang keilmuan sejarah. Mempunyai minat di bidang seni musik, bela diri, IT dan kerohanian.