Menuliskan Purnama Raya

Purnama Raya

Malam ini aku jadikan alam sahabatku
Angin yang menghembuskan aroma damai tanah air
Begitu perlahan membelai raga seorang putra Adam
Menyapu lirih dedaunan gugur di bawah pohon duras
Menerobos gelap, cahaya purnama raya

Mungkin karena perkataan seorang kawan. Yang berujar kalau waktu purnama itu paling asyik membuat puisi di bawah cahaya terangnya. Atau memang karena efek kenampakan purnama yang benar-benar dahsyat, yang katanya purnama terbesar tahun ini. Aku antusias menuliskan puisi.

Full moon, kalau di anime favoritku, sebagai perantara untuk menjadi Giant Ape. Makhluk jadi-jadian dari bangsa perompak di luar angkasa. Hayo tebak, anime apa itu??. Kalau aku sendiri, ada kenampakan purnama raya adalah sarana untuk… berimajinasi. Dan aku setuju dengan pendapat kawanku tadi. Inilah saatnya untuk menulis puisi atas imajiku.

Entah kenapa imajinasi yang berbuah pada ide atau gagasan baru kerap kali muncul disaat memandangi eloknya purnama raya. Mungkin karena pengaruh cerita orang tua dulu yang acapkali ada fullmoon disuruhnya melihat bayangan hitam di bulan sambil berimajinasi. “Mbulane lagi purnama, tengahe iku katon widodari mangku kucing, le. Yen ngasi mbulan iku dipangan buta, warga padha nabuh kenthongan banjur butane mau muntahake lan bali kaya mula (Bulannya sedang purnama, ditengahnya ada kenampakan bidadari dengan kucing di pangkuannya, Nak. Kalau sampai bulannya dimakan oleh raksasa, warga membunyikan kentongan lalu si raksasa memuntahkannya kembali sehingga kembali seperti sedia kala)”. Mungkin juga karena daya pikat fullmoon itu sendiri, yang membuat hati menjadi tenteram, pikiran pun menjadi fresh untuk menggagas sesuatu.

Ada kalanya juga ketika purnama raya tertutupi sekumpulan awan tebal, hati menjadi sedikit kesal. Lalu suasana kembali cair ketika sang dewi malam menampakkan kembali wajahnya. Nah, dari sini pun aku mendapatkan gagasan baru. Terlihat sederhana memang untuk sebuah puisi.

Rembulan itu indah
Sejuk dipandang, menentramkan jiwa
Namun indahnya berubah bias
ketika sekumpulan awan tebal menutupi
Bukan tiada mungkin ia kembali menjadi indah
Tatkala angin membawa perubahan.
Bergerak menyingkap tirai yang menutupi
Dan perubahan itu tiada terwujud ketika udara itu terdiam
Dan itulah sinergi alam yang seharusnya terjadi

Bayangkan jika rembulan itu kamu, kamu untuk saya sendiri sebagai orang kedua, juga kamu untuk kamu semua yang kebetulan membaca tulisan ini..

Bersinarlah kembali walau habis terang.

_______
Gunung Merapi, 15 Juni 2014




Author: Adi

Blogger asli Wonogiri. Pendidik muda dengan bidang keilmuan sejarah. Mempunyai minat di bidang seni musik, bela diri, IT dan kerohanian. Mendaki gunung? Eksplorasi pantai? Ayoo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *