Emug, Hidangan Serbuk Jagung

Emug Kasar

“Pa Guru, siang ini kita coba makan ini e”, ucap Om Pan sambil mengulurkan dua piring makanan. Satu piring berisi sayur pucuk labu seperti biasa. Piring satunya lagi berisi sesuatu yang bikin saya penasaran. Bentuknya tai graji, seperti bubuk kayu bekas gergajian bapak di rumah di Jawa. “Ini apa Om?”, tanya saya pada bapak kos saya itu. “Ai, Pa Guru coba saja dulu, setelah itu saya kasi tau”, jawab beliau sambil tersenyum. Beliau sendiri sudah menghadap dua piring yang isinya sama dengan yang diberikan kepada saya tadi. “Tapi tidak apa-apa kan Om? maksudnya nggak bikin efek samping gitu?”, sambung saya yang ragu-ragu. Takut nanti terjadi apa-apa setelah makan, kekenyangan misalnya. “Ao, tidak le Pa Guru. Pa Guru makan sudah, ini Om mulai makan”, jawab beliau sambil menyendok bentukan serbuk gergaji tadi, lalu melahapnya. Seolah meyakinkan saya, kalau makanan itu benar-benar aman dikonsumsi.

Di Flores sini saya memang sulit nahan lapar. Apalagi habis pulang dari sekolah waktu cuacanya benar-benar panas. Rasanya capek, gerah, dan lapar itu jadi satu. Maunya segera makan lalu cari angin. Saya lihat, dengan lahapnya Om Pan menikmati hidangan di seberang meja sana. Bikin tambah nggak bisa diajak kompromi saja lapar ini. Saya gayung makanan nyleneh tadi satu sendok penuh. Saya lahap lalu kunyah-kunyah. Hmm..

Rasanya kok familiar banget, nggak terasa aneh. Ah, ini sih jagung! tapi manis-manis gurih gitu di mulut. Saya coba telan dan, aduh… lha kok seret. Buru-buru saya ambil segelas air lalu meneguknya. Langsung thenger-thenger saya. Melihat itu Om Pan ketawa. Beliau kasih saran, “Sedikit-sedikit dulu Pa Guru. Kalau perlu kasih tambah dengan pelumas itu, tu.” Oo pantas Om Pan kalau makan, sehabis melahap serbuk tadi disusul kuah sayur. Lha wong pikir saya itu ingin segera makan dengan lahap hidangan tadi keburu lapar. Lagian saya juga penasaran dengan si serbuk, makanya saya buru-buru sikat habis. Ee, ternyata lha kok kena batunya. Pantesan dari tadi senyam-senyum, jebul beliau ngasih surprise ke saya.

Sudah tahu cara menyantapnya, saya pun melanjutkan makan. Om Pan lalu bercerita tentang serbuk tadi. “Kami disini menyebut itu emug, Pa Guru. Bahan utamanya jagung. Pa Guru mau tahu cara membuat emug?” Kali ini saya manggut-manggut saja mengiyakan beliau. Kalau diimbangi jawaban atau pertanyaan takutnya nanti malah tersedak. Kan repot jadinya. “Biji jagung yang umuran tua itu digoreng kering tanpa minyak. Setelah itu ditumbuk sampai hancur lalu disaring diambil yang tumbukannya halus. Yang tumbukannya kasar ditumbuk lagi sampai semuanya jadi halus. Biar rasanya enak, emug biasa dikasih tambah bubuk gula”. Beliau melanjutkan, “Zaman dulu emug biasa dibawa orang dijadikan bekal kalau perjalanan jauh. Emug usia kadaluwarsanya lama, bisa bertahan sampai berhari-hari. Nah, kebetulan ini pas musimnya panen jagung. Pa Guru besok-besok sudah bisa mulai lihat, anak-anak pasti ada bawa bekal emug ke sekolah”.
___________

Setiap perjalanan selalu menyimpan kisah. Tahun kemarin, saya mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T). Lembaga pendidikan yang menaungi saya yaitu Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Saya masuk angkatan kelima sejak program ini mulai bergulir lima tahun yang lalu. Berdasarkan keputusan dari pihak penyelenggara, saya ditugaskan mengajar di Kabupaten Ngada bersama 67 peserta SM3T lainnya dari UNY.

Sampai saatnya Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (PKPO) Kabupaten Ngada membagikan jatah sekolah mana saja yang menjadi sasaran peserta SM3T, saya mengetahui jika sekolah tempat saya mengajar nanti adalah SMPN Satap 2 Riung Barat. Sekolah ini terletak di Kecamatan Riung Barat, kecamatan yang terletak di bagian utara Kabupaten Ngada.

Beberapa bulan tinggal disana sudah cukup bagi saya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Satu hal yang menjadi perhatian saya adalah masyarakat disana yang umumnya bekerja sebagai petani. Mereka mengolah sawah dan kebun. Di kebun, komoditas yang dibudidayakan salah satunya adalah jagung.

Ketika musim panen jagung tiba, masyarakat beramai-ramai membawa keranjang gendong menuju kebun. Hasil panen jagung biasa dijual ke pasar. Sebagian hasil panen disimpan diatas perapian. Sebagiannya lagi dijadikan berbagai macam olahan makanan. Salah satu produk olahan khas masyarakat disini adalah bubuk jagung bercampur gula yang biasa disebut dalam bahasa daerah emug.

Mulanya, tekstur emug ini terasa aneh di dalam mulut saya. Seperti mengunyah serbuk gergaji. Ketika menelan pun saya hampir tersedak. Namun, saya selalu cepat menyesuaikan diri dengan makanan apapun. Segera setelah dikejutkan saat awal mencicipinya, saya langsung ketagihan. Satu piring emug pun tandas.

Kebiasaan masyarakat disana yakni menghidangkan emug dengan atau tanpa sayur. Kedua-duanya sama nikmatnya. Dimata saya, sensasi kunyah dan rasa manis yang tersaji adalah perpaduan yang dahsyat. Buktinya, saat mencicipi panganan itu sejenak saya lupa dengan tuntutan hidup, termasuk tugas administrasi sekolah yang menumpuk. Hehehe

Satu tahun berlalu, saatnya saya kembali ka Jawa. Di suatu ketika, di rumah ada beberapa tongkol jagung yang biasa digunakan ibu’ untuk pakan ayam. Melihat jagung, terbersit di pikiran saya untuk membuat emug. Siapa tahu dengan emug yang saya buat nanti bisa membangkitkan nostalgia dengan tanah Flores

Saya mulai tahu kalau bikin emug butuh ekstra kesabaran. Menumbuk biji jagung yang telah disangrai harus dilakukan dengan ritme statis supaya jagung benar-benar hancur. Jangan sampai jagung yang ditumbuk masih dalam keadaan basah, dimana biji-biji tersebut akan sulit dihancurkan. Waktu lama untuk menumbuk jagung basah ini bisa membuat capek diri. Contohnya saya sendiri.

Segera setelah semua biji jagung selesai tertumbuk, meskipun tidak halus betul, saya campur dengan bubuk gula dan saya cicipi. Hmm..  Biarpun teksturnya ini lebih kasar, namun rasanya sama seperti menyantap emug di Flores dulu, nikmat! Ini bisa menjadi rekomendasi makanan pokok pengganti nasi, begitu pikir saya.

Disini, saya merasakan betapa kayanya negeri ini perihal sumber pangan lokal. Kekhawatiran akan ancaman kelaparan tidak pernah terjadi di masa nenek moyang dahulu. Bagaimanapun, khasanah tanaman pangan tersedia begitu banyaknya untuk dijadikan sumber makanan. Pada umumnya, orang mengidentikkan makanan pokok hanyalah beras dan roti melulu. Kebun-kebun tempat bertumbuhnya pangan lokal tergeser oleh munculnya pemukiman-pemukiman baru. Peran bahan pangan seperti jagung, sagu, dan ubi tergantikan oleh makanan cepat saji yang belum terjamin nilai gizi dan kesehatannya. Padahal, kepada berbagai bahan makanan yang tumbuh di bumi nusantara itulah, kita seharusnya bisa membangun peradaban yang lebih kokoh. Pada kuliner seperti emug ini, kita membangun masa depan bangsa.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz