Perantauan Jawa di Tanah Ngada

Berbicara soal tanah rantau, orang Jawa tidak terlepas dari kodratnya sebagai pengembara. Kisah pengembaraan orang Jawa begitu abadi dalam lembaran sejarah bangsa. Mulai dari adanya ekspansi Wangsa Syailendra menuju tanah Palembang dan terbentuklah kerajaan besar bercorak Buddha yang mahsyur akan kekuasaan maritimnya, Kerajaan Sriwijaya. Lalu di era Kerajaan Majapahit, dengan sumpah Amukti Palapanya sang patih Gajah Mada, wilayah ekspansi orang Jawa kian meluas di seluruh Nusantara. Kisah pengembaraan itu berlanjut disaat kerajaan-kerajaan Islam dari Jawa melalui ekspansi dakwahnya mengarungi pulau-pulau di Nusantara. Bahkan, komunitas Bayan di Lombok Utara juga mengisahkan bahwa asal mula leluhurnya adalah orang Jawa yang menunaikan misinya berdakwah dari Kerajaan Mataram.

Di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, juga memiliki sisi kesejarahan yang ada sangkut pautnya dengan kisah pengembaraan orang Jawa. Continue reading “Perantauan Jawa di Tanah Ngada”

Muslim Yang Bersaudara

Persaudaraan muslim

Bulan Ramadhan menjadi saat dimana umat muslim disibukkan dengan kegiatan ibadah. Tidak terkecuali majlis ilmu di kampung kami. Setiap bulan puasa tiba, sering di tempat itu dihadiri oleh rombongan penuntut ilmu agama dari daerah lain. Kedatangan mereka selain mencari ilmu dan mendakwahkan Islam, juga mempererat tali kebersamaan sebagai sesama muslim. Dengan tali silaturahmi ini para rombongan yang datang dapat mengenal kampung kami lebih dekat, baik itu dari sisi masyarakat ataupun kondisi alamnya. Mereka dengan senang hati juga mengisahkan pengalaman di daerah asalnya masing-masing. Continue reading “Muslim Yang Bersaudara”

Sepak Bola Jago Kapuk di Lingkungan Ngadipiro

Play off Jago Kapuk di Lingkungan Ngadipiro

Saya suka nonton pertandingan sepak bola. Sportivitas yang ditampilkan sejak peluit awal babak pertama ditiup sampai ambisi masing-masing kesebelasan untuk memenangkan pertandingan, bagaikan air yang mengalir. Skill individu maupun taktik dalam sebuah tim adalah satu kecerdasan yang tersirat. Euforia suporter, baik di dalam maupun di luar lapangan, meneriakkan dukungan dengan begitu hebat. Kesemuaannya berpadu menjadi tontonan yang sungguh nikmat. Continue reading “Sepak Bola Jago Kapuk di Lingkungan Ngadipiro”

Emug, Hidangan Serbuk Jagung

Emug Kasar

“Pa Guru, siang ini kita coba makan ini e”, ucap Om Pan sambil mengulurkan dua piring makanan. Satu piring berisi sayur pucuk labu seperti biasa. Piring satunya lagi berisi sesuatu yang bikin saya penasaran. Bentuknya tai graji, seperti bubuk kayu bekas gergajian bapak di rumah di Jawa. “Ini apa Om?”, tanya saya pada bapak kos saya itu. “Ai, Pa Guru coba saja dulu, setelah itu saya kasi tau”, jawab beliau sambil tersenyum. Beliau sendiri sudah menghadap dua piring yang isinya sama dengan yang diberikan kepada saya tadi. “Tapi tidak apa-apa kan Om? maksudnya nggak bikin efek samping gitu?”, sambung saya yang ragu-ragu. Takut nanti terjadi apa-apa setelah makan, kekenyangan misalnya. “Ao, tidak le Pa Guru. Pa Guru makan sudah, ini Om mulai makan”, jawab beliau sambil menyendok bentukan serbuk gergaji tadi, lalu melahapnya. Seolah meyakinkan saya, kalau makanan itu benar-benar aman dikonsumsi. Continue reading “Emug, Hidangan Serbuk Jagung”

Ramadhan 1434 H

Maka Nikmat Tuhan Kamu Manakah Yang Kamu Dustakan

Saya itu sampai hafal, kalau bulan Ramadhan pasti cuacanya panas. Bahkan saya tahu itu sejak dulu waktu mulai kenal yang namanya puasa mbedhug. Pas terik-teriknya matahari, itulah cobaan paling berat. Kepala rasanya merekah kayak tela di sawah, itu lho, retakan tanah di sawah yang kering kerontang. Apalagi ini sehabis dari pesantren kilat. Pulangnya naik kaki. Jauh pula.

Kalau sudah begini, paling segar ya beli es kucir, sejenis es lilin. Lha ya boleh, wong puasa gitu kalau jam dua belas sudah bisa berbuka, meski lamanya berbuka cuma dibatasi sepuluh menit saja. Continue reading “Ramadhan 1434 H”